jump to navigation

Anarkistis 18/12/2008

Posted by pustakabahasa in Menuang Ide.
Tags:
trackback

ADA empat kata yang hendak saya bahas, yakni anarki, anarkis, anarkistis, dan anarkisme. Kata dasarnya dalam bahasa Indonesia tentulah anarki. Yang lainnya merupakan kata bentukan. Lalu, bagaimana cara menggunakannya secara tepat? Hal ini perlu dibahas karena sering terjadi salah kaprah ketika kata anarkis yang merupakan kata benda ditempatkan sebagai kata sifat. Ini antara lain bisa dilihat dalam contoh kalimat, Pemerintah akan menindak tegas para demonstran yang bertindak anarkis. Padahal seharusnya kalimat itu ditulis, Pemerintah akan menindak tegas para demonstran yang bertindak anarkistis.
Coba kita perhatikan apa perbedaan kata anarkis dan anarkistis? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga terbitan Departemen Pendidikan Nasional, anarkistis (adjektiva/kata sifat) berarti bersifat anarki. Sementara kata anarkis (nomina/ kata benda) berarti penganjur (penganut) paham anarkisme, atau arti lainnya, orang yang melakukan tindakan anarki (kamus ini pun terkesan tidak konsisten karena frasa yang dimaksud adalah tindakan anarkistis). Sementara anarkisme, menurut KBBI edisi ketiga itu, adalah nomina yang berarti ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara, atau arti lainnya, teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang.
Jadi poinnya, anarkis adalah kata benda yang merujuk ke pelaku atau penganjur anarkisme. Tentu sangat tidak tepat bila kata benda (anarkis) diposisikan sebagai kata sifat yang dalam contoh tersebut seharusnya ditempati kata anarkistis. Anarki sendiri merupakan nomina yang berarti hal tidak adanya pemerintahan, undang-undang, peraturan, atau ketertiban. Arti lainnya, kekacauan (dalam suatu negara).
Dari segi etimologis, seperti ditulis situs wikipedia, kata anarki merupakan kata serapan dari anarchy (bahasa Inggris) atau anarchie (bahasa Belanda/Jerman/Prancis), yang juga bersumber dari kata bahasa Yunani anarchos atau anarchia. Ini merupakan kata bentukan ”a” (tidak/tanpa/nihil) yang disisipi ”n” dengan archos atau archia (pemerintah atau
kekuasaan). Anarchos atau anarchia berarti tanpa pemerintahan.
Sementara menurut Advanced English-Indonesian Dictionary, Fourth Edition, karya Drs. Peter Salim, M.A., anarchy adalah kata benda yang berarti kekacauan, tidak adanya pemerintahan, atau anarkhi (maksudnya anarki). Sementara anarchist (kata benda) berarti penganut paham anarkhi (maksudnya anarki) atau orang yang ingin menggulingkan kekuasaan pemerintahan. Kamus ini senada dengan KBBI yang menempatkan anarkis sebagai penganut atau pelaku anarkisme, yang tentu berbentuk nomina atau kata benda, bukan kata sifat.
Terkait kata anarki, jangan heran bila dalam penerapan sehari-hari, kata ini sering diartikan sebagai kekacauan, keributan, atau kebrutalan karena dalam bahasa dikenal gejala perluasan arti, seperti juga dalam kasus lain terjadi penyempitan arti. Entah kebetulan atau tidak, kekacauan dalam konteks anarki hampir selalu dikaitkan dengan perlawanan terhadap pemerintah, seperti ketika mahasiswa menggelar demonstrasi besar-besaran, bahkan terkesan brutal, untuk memprotes kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Para mahasiswa menilai, pemerintah yang sedang berkuasa tidak berpihak kepada rakyat, terutama rakyat miskin. Di situ ada perlawanan terhadap pemerintah, dan mahasiswa menganggap tidak ada pemerintahan (anarchy) yang berpihak kepada rakyat. Oleh karena itu, dalam orasi mereka, tercetus kata-kata untuk mengganti pemerintahan. Di sisi lain, kericuhan di lapangan sepak bola misalnya, jarang disebut anarki.
Hal terpenting dari tulisan ini adalah digunakannya kata anarkistis secara tepat.
Sekadar catatan, kata optimistis sudah lebih dulu digunakan secara tepat dibandingkan dengan kata anarkistis yang bahkan jarang dipakai publik. Padahal, kata anarkistis ini posisinya sejajar dengan optimistis, yakni sebagai kata sifat atau penjelas kata benda. Optimistis berarti bersifat optimis, sedangkan optimis (kata benda) malah berarti orang yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal. Kalau kata optimistis sudah digunakan secara tepat, mengapa anarkistis tidak? Jadi, dengan kajian tersebut, frasa tindakan anarkis itu keliru. Yang tepat, tindakan anarkistis.

IMAM JAHRUDIN PRIYANTO
Redaktur Bahasa Pikiran Rakyat

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: