jump to navigation

Pramuka Harus Bangkit di Masa Sulit 18/12/2008

Posted by pustakabahasa in Menuang Ide.
trackback

HARI gini ikut Pramuka, enggak deh, jadul (jaman dulu/kuno -pen.) banget. Paling baris-berbaris, berkemah, dan menyanyi, enggak ada menariknya. Mending ikutan MD atau cheerleader.”
Kata-kata itulah yang meluncur dari mulut Febry, siswi salah satu sekolah menengah atas negeri di Bandung ketika ditanya tentang kegiatan Pramuka. Ia mengaku sejak SMP tidak begitu tertarik dengan kegiatan Pramuka. Ia lebih memilih mengikuti kegiatan ekstrakurikuler lain yang ada di sekolahnya yang memang banyak digandrungi anak seusianya, seperti modern dance (MD) dan cheerleader.
Lain Febry, lain pula Waldi. Siswa kelas V SD ini bercerita polos karena tak terpilih menjadi anggota inti Pramuka di sekolahnya, ia menjadi malas ikut kegiatan Pramuka. Ia mengaku kini tertarik ikut kegiatan ekstrakurikuler futsal.
Ungkapan Febry dan Waldi mungkin mewakili teman sebayanya lain dan menggambarkan betapa Pramuka kini sudah tidak mendapat tempat lagi di sisi kaum muda. Padahal, jika menerawang ke belakang, organisasi yang telah berdiri 46 tahun silam ini sempat menggapai masa keemasan. Sejak diresmikan tanggal 14 Agustus 1961 oleh Presiden Soekarno, Pramuka sebagai wadah tunggal gerakan kepanduan di Indonesia berkembang sangat pesat dan diterima oleh banyak kalangan, khususnya kaum muda.
Setidaknya, 33 kwartir daerah dan 307 kwartir cabang, baik kota maupun kabupaten didirikan. Dengan jumlah anggota yang fantastis, 21.000.000 orang, Gerakan Pramuka berada di posisi terdepan dibandingkan jumlah anggota kepanduan negara lain. Sekarang? Tak tahu. Namun, yang pasti masih tetap ada orang-orang yang begitu peduli terhadap eksistensi Gerakan Pramuka di tanah air walau jumlahnya terbatas.
Tak dapat dimungkiri, arus globalisasi sangat berpengaruh terhadap lesunya perkembangan Gerakan Pramuka saat ini. Banyak organisasi atau kegiatan lain yang lebih mampu menarik kaum muda. Teknologi yang begitu cepat berkembang seakan membuai kaum muda. Tak heran, anak usia Siaga (7-10 tahun) lebih enjoy bermain playstation berjam-jam pada hari libur sekolah daripada mengikuti kegiatan outdoor seperti Pramuka.
Arus globalisasi, secara tidak langsung juga banyak membawa pengaruh negatif terhadap masyarakat belia. Mereka banyak yang terjerumus dan menjadi kaum hedonis. Terjerembap ke dalam kehidupan yang tak tentu arah. Menjadi pemakai narkoba, terlibat kasus kriminal, dan pergaulan bebas.
Sebenarnya berbagai masalah di atas dapat dijadikan peluang sekaligus tantangan bagi Gerakan Pramuka untuk kembali bangkit. Gerakan Pramuka sebagai wadah penyaluran minat, bakat, serta berisi kegiatan yang positif dan konstruktif dapat dijadikan sebagai modal dasar penangkal masalah tersebut. Jalan telah terbuka lebar dengan dicanangkannya revitalisasi Gerakan Pramuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Jamnas 2006 di Sumedang.
Revitalisasi sangat diperlukan mengingat Gerakan Pramuka berpotensi terhadap pembinaan dan pembentukan karakter kaum muda. Gerakan Pramuka perlu diberdayakan secara sistematis, berkelanjutan, dan terencana untuk meningkatkan fungsi pokok dan memperkokoh eksistensinya. Pengejawantahannya tentu tidaklah mudah. Perlu kerja keras dan kesinambungan pembinaan yang menyeluruh, baik di tingkat atas maupun bawah. Perlu kesediaan dan pengorbanan bagi para gubernur, wali kota, bupati di seluruh daerah untuk berperan aktif mengembangkan Gerakan Pramuka.
Revitalisasi juga bukan sekadar mengaktifkan kembali unit-unit dan Saka (Satuan Karya Pramuka), tetapi juga dibutuhkan kepiawaian para pembina dalam meracik kemasan kegiatan Pramuka supaya lebih bervariasi. Bentuknya bisa apa saja, disesuaikan dengan minat dan aspirasi kaum muda saat ini serta up to date sehingga mengundang sekaligus menggugah kaum muda untuk kembali menggandrungi kegiatan Pramuka.
Semoga dengan kerja keras semua pihak, Gerakan Pramuka yang bertujuan membentuk kaum muda yang berkepribadian, bertanggung jawab, terampil, dan bertakwa bisa kembali berkibar di tanah air tercinta ini.

Yudi Noorachman

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: