jump to navigation

Bahasa Daerah Terancam Punah 22/01/2009

Posted by pustakabahasa in Menuang Ide.
trackback

TEORI evolusi tentang seleksi alam yang menimpa makhluk hidup, kini mungkin terjadi pula pada bahasa. Terlepas dari kontroversi teori yang dikemukakan Charles Darwin (12 Februari 1809-19 April 1882) itu, sejumlah bahasa di dunia terancam punah. Kekhawatiran itu sudah menyeruak dengan mulai berkurang bahkan hilangnya penutur beberapa bahasa ibu atau bahasa daerah.
Dr. Gufran Ali Ibrahim, pakar sosiolinguistik dari Universitas Khairun Ternate, dalam makalahnya pada Kongres IX Bahasa Indonesia di Hotel Bumi Karsa Jakarta, 28 Oktober-1 November 2008 lalu menulis bahwa dalam buku Ethnologue: Languages of the World (Grimes: 2000), tercantum ada 6.809 bahasa di dunia. Dari jumlah itu, 330 bahasa memiliki penutur 1 juta orang atau lebih. Jumlah penutur yang besar ini berbanding terbalik dengan kira-kira 450 bahasa di dunia yang memiliki jumlah penutur sangat sedikit, telah berusia tua, dan cenderung bergerak menuju kepunahan. Pada saat yang sama, rata-rata jumlah penutur bahasa-bahasa di dunia hanya berkisar 6.000 orang atau lebih, hanya separuhnya memiliki penutur 6.000 orang atau lebih penutur, dan hanya separuhnya lagi memiliki penutur kurang dari 6.000 orang.
Menurut Gufran, secara garis besar ada dua faktor yang dapat dianggap sebagai penyebab utama kepunahan bahasa daerah. Pertama, para orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anak mereka dan tidak lagi menggunakannya di rumah. Kedua, ini merupakan pilihan sebagian masyarakat untuk tidak menggunakan bahasa ibu dalam ranah komunikasi sehari-hari. 
Kecenderungan punahnya bahasa terjadi di negara-negara berkembang dan miskin. Beberapa negara di antaranya memiliki populasi etnik tak lebih dari 5.000 orang, meskipun beberapa di antaranya memiliki jumlah populasi etnik yang cukup besar, seperti bahasa Lenca (36.858 orang) dan bahasa Pipil (196.576 orang) di El Salvador. Namun demikian, penutur aktif kedua bahasa ini hanya sekitar 20 orang. Jadi, bahasa-bahasa ini sesungguhnya telah terancam punah di antara populasi totalnya yang relatif banyak. Sebagian besar dari bahasa-bahasa yang terancam punah itu merupakan bahasa etnik minoritas terisolasi atau minoritas yang berada dalam wilayah yang memiliki begitu beragam bahasa dan budaya. 
**
Di Indonesia, menurut Gufran, bahasa Ibu (penuturnya menyebut nama bahasa ini Ibo atau ”tuan tanah”) di Maluku Utara yang dalam catatan Voorhoeve dan Visser pada tahun 1987 berjumlah 35 penutur, tahun 2008 tinggal lima penutur dan berusia di atas 50 tahun-berada di satu wilayah masyarakat multibahasa yang perbatasan kebahasaannya hanya antardesa atau antarkampung yang berjarak tidak lebih dari 5 kilometer. Padahal, pada 1951 berdasarkan pemetaan Esser (Mahsun, 2008), bahasa-bahasa di Indonesia diidentifikasi berjumlah 200 bahasa. 
Berbeda dengan Esser, Salzner (1960) justru menyatakan bahwa jumlah bahasa daerah di Indonesia tidak seperti yang dinyatakan Esser. Menurut dia, jumlah bahasa di Indonesia hanya 96. Akan tetapi, dengan memanfaatkan petugas kebudayaan yang terdapat di daerah-daerah di seluruh Indonesia, Lembaga Bahasa Nasional (1972) mencatat 418 bahasa daerah.
Sementara itu, dari ratusan bahasa daerah di Indonesia, dalam Ethnologue diuraikan beberapa bahasa yang mendekati kepunahan berdasarkan jumlah penutur yang tersisa, antara lain bahasa Amahai (50 orang), Hoti (10), Hukumina (1), Ibu (35), Kamarian (10), Kayeli (3), Nusa Laut (10), Piru (10), Bonerif (4), Kanum Bädi (10), Mapia (1), Massep (25), Mor (20-30), Tandia (2), Lom (2), Budong-budong (70), Dampal (90), dan Lengilu (10). Indikasi kepunahan sejumlah bahasa daerah itu dikhawatirkan akan berdampak pada kepunahan budaya yang mereka miliki, dan akhirnya mengancam kebudayaan nasional.
Untuk mengantisipasi permasalahan ini, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional mencantumkan ancaman kepunahan bahasa daerah sebagai salah satu kajian utama pada Kongres IX Bahasa Indonesia tahun 2008 lalu. Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono menyatakan kekhawatirannya terkait tergesernya penggunaan bahasa daerah oleh bahasa Indonesia. Misalnya, keluarga muda yang tinggal di kota cenderung menggunakan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga mereka.
Dendy menjelaskan, saat ini pihaknya sedang mengembangkan kelembagaan Pusat Bahasa (dalam hal ini Balai Bahasa) di delapan daerah untuk melakukan penelitian dalam rangka mengantisipasi kepunahan bahasa daerah. Kedelapan daerah itu antara lain Provinsi Bangka Belitung, Bengkulu, Kepulauan Riau, Banten, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Gorontalo.
Pada sisi lain, Dendy menuturkan, sebagian ranah penggunaan bahasa Indonesia tergeser oleh bahasa asing. Kondisi itu menunjukkan, kedudukan dan fungsi ketiga bahasa itu belum mantap dalam tata kehidupan masyarakat, terutama setelah reformasi tahun 1998 lalu. Sementara itu, tuntutan dunia kerja masa depan memerlukan insan yang cerdas, kreatif, inovatif, dan berdaya saing, baik lokal, nasional, maupun global. Untuk memenuhi keperluan itu, sangat diperlukan keseimbangan penguasaan bahasa ibu (bahasa daerah), bahasa Indonesia, dan bahasa asing (untuk mereka yang berdaya saing global).
Salah satu penyebab punahnya bahasa daerah di tanah air, ternyata adalah bahasa nasional itu sendiri, yakni bahasa Indonesia. Meskipun dalam teorinya bahasa Indonesia muncul dari keragaman bahasa daerah di Indonesia, bahasa persatuan yang didengungkan pada Sumpah Pemuda 1928 itu secara tidak langsung menjadi ancaman serius karena penutur bahasa daerah menjadi enggan mengajarkan bahasa ibu kepada keturunannya. Ancaman lainnya adalah bahasa gaul yang telah menjadi bahasa komunikasi sehari-hari warga perkotaan dan sering ”menempel” dalam bahasa Indonesia.
Menanggapi makin berkurangnya jumlah penutur bahasa daerah di Indonesia dan merebaknya bahasa gaul, Dr. Ferry Rita, ahli antropolinguistik dari Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah menyatakan, hal itu wajar-wajar saja. Selama ini pun ragam bahasa gaul yang dulu sering disebut bahasa pasar merupakan salah satu unsur pembentuk bahasa Indonesia. Bahkan, bahasa Melayu yang menjadi akar bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu pasar yang menjadi bahasa pergaulan saat itu. 
Berbeda dengan keadaan bahasa daerah di Indonesia yang menghadapi ancaman kepunahan, beberapa bahasa lainnya malah mencapai popularitasnya. Di kawasan industri seperti Karawang, bahasa Jepang muncul sebagai bahasa favorit baru di kalangan siswa sekolah menengah kejuruan. Dengan sasaran pascakelulusan siswa mereka bisa langsung bekerja di salah satu perusahaan di kawasan industri tersebut, sekolah menengah kejuruan di Karawang mencantumkan pelajaran bahasa Jepang sebagai muatan lokal.
Bahasa asing lain yang popularitasnya tidak perlu diragukan adalah bahasa Inggris. Bahasa yang didaulat sebagai bahasa komunikasi internasional itu sedikitnya mulai menggeser peran atau posisi bahasa Indonesia. Pasalnya, di beberapa jurusan di perguruan tinggi Indonesia, bahasa Inggris sudah mulai digunakan sebagai bahasa pengantar perkuliahan. 
Oleh karena itu, tampaknya Teori Evolusi sedang menimpa dunia kebahasaan. Siapa yang lebih kuat, dialah yang akan bertahan. Bahasa daerah, mau tidak mau, harus tergerus oleh bahasa nasional, dan bahasa nasional harus kalah bersaing oleh bahasa asing atau bahasa internasional. Pertanyaannya, sampai kapankah bahasa-bahasa daerah di Indonesia akan bisa bertahan?***

M. Kadapi, staf bahasa Pikiran Rakyat.

Sumber: Pikiran Rakyat (21-1-2009)

Komentar»

1. FRANSORI - 29/03/2010

wah. kayakna aku harus pke bahasa daerah terus ni


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: