jump to navigation

Kata ”Memperhatikan” 22/01/2009

Posted by pustakabahasa in Menuang Ide.
trackback

SETELAH cukup lama ditunggu, akhirnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional terbit juga. Semula, kamus ini direncanakan terbit bersamaan dengan Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008 lalu. Namun karena ada masalah teknis pencetakan, kamus ini baru terbit tahun 2009. 
Sebagai redaktur bahasa, saya seperti mendapat ”jawaban” dengan kehadiran KBBI edisi keempat tersebut karena selama ini saya menyimpan tanya menyangkut beberapa lema (entry). Kata doping misalnya, pernah tercantum sebagai lema pada KBBI edisi kedua (1991) dengan kelas kata nomina, yang berarti penggunaan obat penguat tenaga atau perangsang untuk meningkatkan potensi olah ragawan. Namun pada KBBI edisi ketiga (2002), lema doping tidak tercantum lagi. Pada KBBI keempat, doping muncul lagi sebagai lema dengan embel-embel cak (cakapan) yang berarti pendadahan.
Namun, yang lebih penting dari KBBI edisi keempat ini adalah dikembalikannya lema perhati ke lema hati. Hal ini penting karena menyangkut bentuk turunan lainnya. Sejak enam tahun lalu, pemakai bahasa, terutama media cetak menggunakan kata memerhatikan karena pada KBBI edisi ketiga, lema yang ada adalah perhati. Dengan lema ini, bentuk turunannya adalah memerhatikan karena huruf [p] pada kata dasar, luluh saat didahului awalan me-. Meski demikian, dalam perjalanannya, kata memerhatikan ”digugat” oleh para pengamat bahasa. Mereka menilai, lema yang tepat adalah hati sehingga (salah satu) bentuk turunannya adalah memperhatikan
Menariknya, pendapat para pengamat bahasa tersebut diakomodasi oleh KBBI edisi keempat. Lema perhati diarahkan ke lema hati. Ditinjau dari prinsip item and arrangement, kata memperhatikan dibentuk dari kata dasar hati dan konfiks memper-kan. Namun bila dianalisis dengan prinsip item and process yang lebih mendetail, lema hati membutuhkan awalan ber- untuk menjadi verba (kata kerja) sehingga terbentuklah kata berhati. Berhati, seperti tercantum dalam KBBI edisi keempat, berarti menaruh hati, menaruh belas kasihan. Menurut Kepala Balai Bahasa Bandung M. Abdul Khak, setelah berhati, bentuk turunan berikutnya adalah perhati. Kata perhati (verba) diberi arti amati, cermati. Kata perhati yang kini statusnya sebagai bentuk turunan dari lema hati (bukan lema dasar), kemudian mendapat konfiks me(N)-kan, menjadi memperhatikan. Sementara pemerhati diberi arti orang yang memperhatikan. Kata perhatian berarti ihwal memperhatikan atau minat.
Awalan pembentuk verba adalah ber- dan me(N)-. Lema hati memiliki bentuk turunan berhati, perhati, perhatian, memperhatikan, dan sebagainya. ”Awalan ber akan menghasilkan bentuk derivasi per, pe, atau pel, seperti tani-bertani-pertanian-petani,” ujar Abdul Khak. Pemakai bahasa belum membutuhkan konsep tani-menani-penani. Dalam kaitan lema hati, secara konsep yang dibutuhkan adalah bentuk derivasi berhati, perhati, perhatian dan seterusnya, bukan hati-mehati-pehati. 
Kini, setelah KBBI edisi keempat terbit dengan mencantumkan lema hati (untuk mengoreksi lema perhati pada KBBI edisi ketiga), menjadi jelas bahwa bentuk turunan yang benar adalah memperhatikan, bukan lagi memerhatikan. (Imam Jahrudin Priyanto/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat (21-1-2009)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: