jump to navigation

Piano Merah Mahogany 11/02/2009

Posted by pustakabahasa in Isapan Jempol.
Tags:
trackback
Bertahun-tahun lalu, ketika saya masih seorang pemuda berusia dua puluhan, saya bekerja sebagai sales perusahaan piano St. Louis. Kami menjual piano ke seluruh negara bagian melalui iklan-iklan kecil di surat kabar. Jika ada tanggapan yang cukup serius, barulah kami mengangkut piano itu ke atas mobil-mobil pikap kami, pergi ke alamat yang dituju, dan menjual piano-piano kami kepada orang-orang yang sudah memesan.

Setiap kali mengiklankan barang dagangan di daerah kapas Southeast Missouri, kami selalu menerima tanggapan dari seorang konsumen lewat kartu pos yang isinya, “Tolong kirimkan sebuah piano baru untuk cucu kecil saya. Warnanya harus merah mahogany. Saya bisa membayar sepuluh dolar sebulan dari hasil menjual telur.”Tulisan wanita tua itu memenuhi seluruh halaman belakang kartu pos, sampai terisi semua. Lalu dia melanjutkan tulisannya ke bagian depan kartu pos, bahkan sampai ke pinggirannya sehingga hanya menyisakan sedikit sekali ruang untuk menulis alamat.

Kami tidak bisa menjual piano dengan cicilan sepuluh dolar sebulan. Tidak akan ada lembaga keuangan mana pun yang mau menyetujui kontrak pembayaran sekecil itu. Jadi, kami abaikan saja kartu posnya.
Akan tetapi, pada suatu hari, kebetulan saya sedang berada di wilayah itu untuk melayani tanggapan-tanggapan dari pelanggan lain. Kemudian hanya iseng-iseng saya mencari alamat wanita tua itu. Saya menemukan tempat yang hampir sama dengan yang ada dalam bayangan saya.

Dia tinggal di sebuah gubuk kecil satu ruang, di tengah hamparan ladang pohon kapas. Lantai kabinnya kotor dan ayam berkeliaran di dalam rumah. Jelas, wanita ini tidak memenuhi syarat apa pun untuk membeli barang dengan kredit. Dia tidak punya mobil, tidak punya telepon, tidak punya pekerjaan. Yang dia punya hanyalah atap yang menaungi kepalanya, dan sama sekali bukan tipe yang bagus. Bahkan, saya bisa melihat sinar matahari lewat celah-celahnya. Cucu kecilnya berumur kira-kira sepuluh tahun, telanjang kaki, dan mengenakan baju dari karung goni. 

Saya menjelaskan kepada wanita itu bahwa kami tidak bisa menjual sebuah piano baru dengan bayaran sepuluh dolar sebulan dan tidak perlu lagi menulis surat kepada kami setiap kali dia melihati iklan kami di surat kabar lokalnya. Saya beranjak dari tempat itu dengan perasaan pedih, tetapi ternyata saran saya sama sekali tidak memengaruhinya. Dia tetap saja mengirimkan kartu pos yang sama, setiap enam minggu. Dia selalu meminta piano baru, tolong, warnanya merah mahogany, dan berjanji tidak menunggak cicilan sepuluh dolar sebulan itu. Hati saya berkecamuk.

Beberapa tahun kemudian, saya memiliki perusahaan piano sendiri. Ketika saya mengiklankan barang dagangan saya ke wilayah itu, kartu posnya mulai datang ke kantor saya. Berbulan-bulan lamanya, saya mengabaikannya. Habis, saya harus bagaimana lagi?

Lalu, suatu hari, saya kembali berada di wilayah itu, sesuatu terlintas dalam hati saya. Kebetulan saya membawa piano merah mahogany di pikap kecil saya. Meski saya tahu bahwa saat itu saya akan membuat suatu keputusan bisnis yang mengerikan, saya memutuskan untuk datang lagi ke gubuknya dan memberitahunya bahwa saya bisa menerima kontrak itu secara pribadi. Saya katakan, dia boleh membayar sepuluh dolar sebulan tanpa bunga. Itu artinya harus membayar sebanyak lima puluh dua kali cicilan. Saya bawakan piano baru itu ke dalam rumahnya dan menempatkannya di suatu sudut yang kira-kira tidak akan terkena bocoran air hujan. Saya menasihati wanita itu dan cucu kecilnya untuk menjaga agar ayam jangan sampai menyentuh pianonya, lalu saya pergi dengan keyakinan bahwa saya baru saja membuang sebuah piano baru.

Akan tetapi, cicilan ternyata benar-benar datang, lunas sampai lima puluh dua kali, seperti yang telah disepakati — kadang ada uang receh di dalam amplop berukuran tiga kali lima inci itu. Luar biasa!

Dua puluh tahun lamanya, saya melupakan kejadian itu begitu saja.

Lalu, pada suatu hari di Memphis, ketika sedang melakukan perjalanan bisnis lain. Setelah makan di Hotel Holiday Inn, saya masuk ke ruang tunggunya. Saya mendengar alunan musik piano yang begitu indah dari arah belakang. Saya menoleh dan melihat seorang wanita muda yang cantik sedang memainkan sebuah grand-piano mewah.

Karena saya sendiri juga bisa bermain piano, saya merasa kagum pada kepiawaiannya memainkan alat musik itu. Saya mengangkat gelas minuman saya dan berpindah ke meja di sebelah sang pianis, supaya saya bisa mendengarkan dan memperhatikan permainannya dengan lebih jelas. Dia tersenyum pada saya, menanyakan apa lagu yang saya minta. Ketika beristirahat sejenak, dia duduk di depan meja saya.

 “Bukankah Anda orang yang dulu menjual piano kepada nenek saya?” tanyanya.

Saya sama sekali tidak ingat maka saya minta dia menjelaskan.

Mulailah dia bercerita dan mendadak saya ingat. Ya Tuhan, ternyata dia! Dialah gadis kecil telanjang kaki berbaju karung goni itu!

Dia memberi tahu bahwa namanya Elise. Karena neneknya tidak bisa membiayainya les piano, dia belajar memainkan pianonya dengan
mendengarkan radio. Lalu dia mulai bermain piano di gereja, yang harus ditempuh oleh dia dan neneknya dengan jarak 2 mil dari rumah mereka.
Dia juga bermain piano di sekolah dan telah meraih banyak penghargaan dan akhirnya menerima beasiswa sekolah musik. Lalu dia menikah dengan seorang pengacara di Memphis dan dia membelikannya sebuah grand-piano yang  sekarang dimainkannya itu.

Sesuatu terlintas di kepala saya. “Elise,” kata saya, “Ruangan ini agak gelap. Apa warna piano itu?”

“Merah mahogany,” katanya. “Kenapa?”

Saya membisu. Mengertikah dia arti kata merah mahogany itu?

Sadarkah dia akan kegigihan neneknya yang tidak masuk akal itu, yang memaksa harus piano merah mahogany, padahal tidak seorang waras pun saat itu yang mau menjual piano apa pun kepadanya? Saya rasa tidak.

Kalau begitu apakah dia menyadari kesuksesan hebat yang telah berhasil diraih seorang gadis kecil hina berpakaian bahan karung goni itu? Tidak, saya yakin dia juga tidak mengerti hal itu.

Akan tetapi, saya sangat mengerti dan kerongkongan saya seperti tersumbat.

Akhirnya, saya berhasil menemukan lagi suara saya. “Saya hanya ingin tahu apa warna piano itu,” kata saya. “Saya bangga pada Anda. Permisi, saya harus naik ke kamar saya.”

 Saat itu saya benar-benar harus segera masuk ke kamar saya sebab laki-laki tidak pantas menangis di muka umum.

 JOE EDWARDS

 Joe Edwards menghabiskan hampir seluruh usia produktifnya sebagai seorang pemain piano jazz di klub-klub malam Kansas City. Sekarang dia telah pensiun, tetapi masih sering bermain piano pada acara-acara resepsi pernikahan di sekitar Springfield, Missouri.

 

*Dari e-mail seorang teman.Piano Merah Mahogany

Komentar»

1. little car - 24/02/2009

Buah dari kerja cerdas, kerja keras, dan kerja ikhlas teramu dalam serpihan kisah hidup manusia tersebut. It’s soo nice🙂

pustakabahasa - 20/03/2009

Analisis yang bagus Neng

2. journalistwannabe - 05/03/2009

mmmh..inspiring…😉

pustakabahasa - 20/03/2009

Ya… mudah-mudahan cerita ini bisa menjadi motivator buat kita semua

3. acy - 30/03/2009

inspiring kang…😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: